Bismillaah,
2010,dengan didasari niat untuk membagi lika-liku kehidupan pencarian makna hidup dan jati diri dua orang manusia yang disatukan dalam sebuah ikatan pernikahan, kami menerbitkan sebuah komik indie, “Married with Brondong”, sebuah kisah yang diinspirasi dari sebuah kisah nyata .

Kenapa indie? Karena kami masih kurang percaya diri bahwa akan ada penerbit yang mau menerima naskah tersebut. Di samping sebuah kecemasan akan “perlakuan” penerbit terhadap komik ini nantinya. Akhirnya, dengan ijin Allah dan dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami meniatkan untuk menerbitkan komik ini sendiri. Hitung-hitung sambil belajar berwiraswasta, mencoba mengetahui seluk beluk penerbitan sebuah buku, dari A sampai Z.
Beberapa hari sebelum diterbitkan, komik ini sedikit menuai sedikit protes dari beberapa pihak yang kami mintai review. Terkait judulnya yang mungkin agak berbau “teenlit”dan kata brondong sendiri agak berkonotasi negatif. Karena waktu itu sedang booming-nya film-film loKal yang mengeksploitasi syahwat dengan embel-embel “brondong”.
Namun saat itu kami tetap jalan terus, dengan keyakinan judul itu adalah yang paling pas mewakili jiwa komik kami, begitu juga warna merah marun bersemu pink:P yang mendominasi sampulnya, dirasa paling tepat mewakili nuansa kisah yang ada di dalamnya. Buku ini harus terbit dengan judul dan sampul yang kami buat.
Dan Alhamdulillaah, ketika diterbitkan, respon pembaca sangat menggembirakan, bahkan lebih dari espektasi yang kami kira. Mengejutkan bagi kami yang masih pemula dan belum terlalu percaya diri.
Tidak sedikit yang menanti sekuelnya, dan banyak yang memberi apresiasi pada inti dari kisahnya beserta kedua tokoh sentral didalamnya, Bo dan Jo. Lucunya, justru banyak juga yang menyayangkan soal judul dan warna sampul yang dirasa kurang pas mengingat isi dan misi yang ingin kami sampaikan. Ibaratnya, makan es krim, tapi bungkusnya permen :P. Bagi kami, itu menjadi sebuah masukan penting dari salah satu proses belajar..:)
Sebulan dua bulan, penjualan di toko buku masih lumayan banyak, namun bulan-bulan berikutnya, penjualan semakin menurun. Beberapa orang juga menanyakan kepada kami, mengapa susah menemui komik ini. Tak jarang setelelah mengubek-ubek toko buku, ketemunya malah tertumpuk oleh buku lain. Intinya, sebagai pemain pemula dalam jalur penerbitan, kami kalah display. Tergusur oleh buku-buku penerbit besar yang jumlahnya ribuan. Satu lagi bahan pembelajaran kami. Bahwa untuk menerbitkan sebuah buku tidak cukup hanya mencetak dan dipajang di rak toko buku. Ada sebuah sistem jaringan yang harus diketahui.
Untuk mengimbangi hal ini kami mencoba lebih gencar berpromosi via internet, alhamdulillaah, lumayan. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, apabila tidak diimbangi dengan “ketersediaan” di toko buku, sepertinya masih berat. Pertanyaan masih singgah, kenapa buku kami masih jarang ditemui di toko buku?. Sebuah pelajaran yang sangat-sangat-sangat berharga.
Dari sini kami akhirnya memutuskan untuk menawarkan naskah komik lainnya pada penerbit-penerbit yang sudah eksis. Alhamdulillaah dengan ijin Allah pula, naskah kami diterima. 33 Pesan Nabi, Jaga Mata, Jaga Telinga, Jaga Mulut.
Seiring dengan terbitnya komik ini, animo masyarakat terhadap “Married with Brondong” semakin meningkat. Tapi apa nyana, lagi-lagi “Married with Brondong” masih susah ditemui di toko buku. Padahal sesuai dengan perhitungan kami, masih ada lebih separuh dari keseluruhan eksemplar yang masih beredar di toko-toko.
Begitu banyak ide dan hal yang kami bagi melalui komik ini. Bukan hanya sekedar masalah cinta sepasang suami istri, tapi juga tentang idealisme dan pandangan hidup. Begitu banyak yang mencarinya. Tapi sekali lagi, kurang diimbangi dengan kemudahan mendapatkannya di toko buku. Mau cetak lagi? Dana kami terbatas.
Alhamdulillaah.
2012, kami menerima pinangan dari sebuah penerbit untuk menerbitkan ulang kisah ini. Tidak mudah sebetulnya.. namun dengan pertimbangan bahwa komik ini akan dapat dibaca lebih banyak pihak dan disebarkan dengan jangkauan yang lebih luas, maka ini menjadi sejalan dengan niat awal kami membagi kisah ini. Soal keterbatasan dana yang selama ini jadi kendala, menemukan solusinya.
Dengan niat ini pula, melalui pertimbangan dan diskusi yang lumayan panjang, akhirnya kami memutuskan untuk mengganti judul “Married with Brondong” dengan “kisah Bo & Jo”, dan mengganti warna sampul romantis kami dengan warna putih bersih yang mewakili niat suci dalam hubungan pernikahan ini.. :P

InsyaAllah, ini tidak mengganti jiwa yang ada seperti dalam terbitan indie kami..dan insyaAllah ini menjadi awal untuk terus membagi kisah kedua tokoh didalamnya..so, doakan sekuelnya juga akan segera hadir ya..;)
Oiya, satu lagi, bagi yang berminat mendapatkan versi asli komik Married with Brondong, kami masih melayani penjualan terbatas.
Terbatas dalam jumlah sekitar 180-an eksemplar dan terbatas melalui website kami saja, yaitu haltebikumiku.com. Bonus tandatangan bagi yang berminat . InsyaAllah seluruh hasil penjualannya nanti akan disumbangkan kepada sebuah panti asuhan di daerah pelosok kota Malang. Tepatnya di daerah Jabung. Bagi Anda yang mungkin berminat singgah di tempat kami, dan ingin mengunjungi panti asuhan tersebut, insyaAllah kami akan bersedia mengantarkan . Sembari menghirup udara segar pedesaan di pelosok kota Malang.
Terimakasih banyak, semoga usaha ini dilancarkan Allah. AAmiin.
Wassalam

Malang, 12 Juni 2012